Sabtu, 11 Agustus 2018

Nikmatnya Opor Bebek dari Desa Burneh....




Pulau madura memang menyimpan berbagai macam kuliner olahan bebek . Hingga tak terhitung jumlahnya , kita pasti tidak asing lagi yang namanya bebek sinjay yang sudah banyak dikenal orang dan rela datang jauh-jauh kemadura untuk menikmati olahan bebek yang satu ini, bisa dikatakan bahwa bebek sinjay ini adalah salah satu icon kuliner dimadura. Namun dibalik kepopuleran dari olahan bebek sinjay itu ada satu olahan bebek yang belum banyak dikenal oleh khalayak yaitu opor bebek madura.
Opor bebek ini merupakan salah satu makanan yang dilestarikan secara turut temurun, dimana dibuat oleh nenek moyang kemudian diturukkan kepada anaknya hingga ke cicitnya. Opor bebek ini biasanya sering digunakan pada acara pertunangan dan acara nikahan dan hal ini sudah digunakan sebagai adat istiadat masyarakat madura. Olahan opor ini berbeda dengan opor pada umumnya, dimana biasanya pengoahan opor menggunakan daging ayam dalam pengolahannya, kini dimadura daging ayam tersebut diganti dengan daging bebek . Opor bebek khas madura ini khususnya memiliki perbedaan yang dari olahan bebek yang lain dimana penampilan warnanya yang hitam legam. Penampilan hitam legam bukan berarti bahwa bebek tersebut gosong. Tapi warna hitam dari olahan bebek tersebut berasal dari bumbu yang dimasak berjam-jam agar bumbu tersebut meresap dalam daging bebek itu sendiri dan juga bumbu tersebut semakin gurih. 



Namun seiring berjalannya globalisasi olahan opor bebek ini mulai hilang karena pembuatannya yang lama dan butuh kesabaran.Padahal sebenarnya pengolahan opor bebek ini bisa menjadi peluang bisnis yang menguntungkan bagi masyarakat. Salah satu wilayah yang unggul dalam pengolahan opor bebek ini adalah kawasan kabupaten Bangkalan , lebih tepatnya desa burneh kecamatan burneh kabupaten bangkalan . Didaerah burneh ini sudah terkenal dalam pembuatan opor bebek ,salah satunya yang masih bertahan dalam menjalankan bisnis pembuatan opor bebek ini adalah ibu Rumlah Maffudz yang berusia 46 tahun, yang dimana ibu ini memiliki profesi sebagai guru olah raga di tanah merah.
Menurut ibu maffudz sekarang banyak masyarakat madura mulai malas menjalankan bisnis yang turun temurun dari nenek moyang mereka karena godaan menjadi seorang pegawai dan hanya segelintir orang saja yang masih bertahan melestarikan olahan opor bebek dari leluhur mereka tersebut. Sistem penjualan mereka pun tidak masal , mereka akan membuat opor bebek ketika mendapatkan pesanan dari pejabat pemerintah atau pun instansi- instansi yang memiliki acara besar . Belum banyak warung makan atau resto yang menjual olahan yang satu ini didaerah madura sendiri , jadi banyak masyarakat yang belum mengetahui ada olahan bebek yang unik dan belum tentu ada didaerah lain.

Jumat, 10 Agustus 2018

Menggali Potensi Kuliner Berbahan Dasar Emping Melinjo Di Desa Burneh Kecamatan Burneh





Desa Burneh memiliki lokasi yang sangat strategis untuk digunakan sebagai tempat berwirausaha dikarenakan letaknya yang berdekatan dengan jalan raya yang mengubungkan dari kota Bangkalan menuju kota-kota selanjutnya seperti Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Dibalik masyarakatnya yang sudah terbilang modern ini masih ada beberapa home industry yang memproduksi emping berbahan dasar melinjo. Jika bertahun-tahun yang lalu masih banyak terdapat pohon melinjo di kawasan Desa Burneh mengimbangi pula dengan masih banyaknya para pembuat emping melinjo. Namun, pada tahun-tahun ini sudah sedikit sekali para pembuat emping melinjo diarenakan banyaknya generasi muda yang telah memilih untuk berprofesi sebagai karyawan daripada pembuat emping melinjo. Karena hal ini pula yang membuat warga tidak ingin menanam hingga menebang pohon melinjo yang dulunya telah membantu perekonomian warga disana. Jika ada pohon melinjo disanapun jumlahnya sangat sedikit dan usia pohon sudah sangat tua hingga tidak dapat menghasilkan buah melinjo yang banyak lagi. Menyikapi hal ini warga yang masih melestarikan pembuatan emping melinjo ini memilikih untuk membeli melinjo dari wilayah yang lain dengan harga sekitar Rp. 250.000; per bak.
Pengolahannya pun dibilang cukup sederhana dan sangat cepat, mulai dari proses mengupas biji melinjo kemudian disangrai dan dipisahkan dengan kulitnya setelah itu ditumbuk dan dijemur hingga menjadi emping kering yang siap digoreng dan dinikmati oleh para konsumen. Melinjo yang dibuat juga bisa sesuai pesanan, ada yang di jual dalam ukuran kecil atau besar hingga diberikan bumbu pedas manis untuk menambah cita rasa dari emping melinjo ini sendiri. Dalam hal ini kita akan bantu mengenalkan potensi daerah terutama dusun Manggisan Desa Burneh  agar banyak yang mengenal bahwa desa ini mampu menjadi pengasil emping melinjo yang berkualitas.
Pada salah satu narasumber yang telah kita mintai keterangan. Beliau menjelaskan bahwa pembuatan emping melinjo ini dilakukan secara turun-temurun dan beliau lakukan sedari kecil. Hingga tidak dapat diragukan lagi tentang kualitas serta para pelanggan-pelanggan setia beliau. Sehari beliau bisa memproduksi sekitar 5kg melinjo dan hebatnya hal ini tidak dijual kepada pengepul melainkan langsung ke konsumennya.


Kami berusaha mengembangkan inovasi yang bisa dilakukan menggunakan bahan dasar emping melinjo yakni “Brownis Melinjo”. Emping melinjo yang kita anggap selama ini memiliki rasa yang agak getir akan kami olah menjadi jajanan manis dan modern. Cara pengolahannya juga dirasa sangat mudah yakni kita akan menumbuk emping melinjo yang sudah di goreng kemudian bubuk emping melinjo tersebut akan dicampurkan dengan adonan brownis yang terdiri dari (tepung brownis, telur, mentega, dan coklat0setelah semua adonan tercampurkan maka akan dilakukan proses pengukusan kemudian brownis siap untuk di platting.

“ORGANISASI KELOMPOK TANI SEBAGAI MODAL SOSIAL MENUJU KEMAKMURAN DESA BURNEH”



      





      Desa Burneh yang belokasi di pinggiran kota Bangkalan masih memiliki lahan pertanian yang luas, sebagian dari masyarakat selain bermata pencaharian sebagai Aparatur Sipil Negara terdapat juga masyarakat yang menekuni profesi sebagai petani. Dengan sumber daya alam yang dimiliki tidak dipungkiri desa Burneh tergolong sebagai desa maju.
            Pengelolaan lahan pertanian yang bagus dengan sistem yang terstruktur menjadikan bidang pertanian menjadi salah satu sumberdaya yang dapat diandalkan. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya sekitar 5 kelompok tani yang terbentuk di Desa Burneh. Adanya kelompok tani tersebut mempermudah masyarakat dalam mengelola lahan pertanian yang dimiliki Desa Burneh. Adanya kelompok tani dapat menjembatani para petani dalam bermusyawarah dalam mengelola lahan pertanian seperti menentukan musim tana dan panen, mengelola ditribusi bibit, pupuk dan perlengkapan lainnya.
            Salah satu ketua kelompok tani mengatakan kepada anggota KKN dari Universitas Trunojoyo Madura bahwasanya ia sering di delegasikan sebagai perwakilan petani baik oleh desa maupun kecamatan untuk sharing-hearing tentang pertanian ke daerah-daerah lain seperti malang, nganjuk, bahkan hingga keluar jawa. Dengan system yang demikian tertata sehingga mampu menjadikan bidang pertanian di Desa Burneh mengalami perkembangan.
            Pada intinya adanya kelompok tani di desa Burneh sangat bermanfaat baik bagi anggota kelompok tani, masyarakat Burneh secara luas, dan juga pemerintah desa Burneh.

Pembukaan KKN di Kecamatan Burneh Kabupaten Bangkalan


Kuliah Kerja Nyata atau yang dapat disingkat KKN, merupakan sebuah program yang diberikan kampus untuk mahasiswa yang telah memiliki SKS yang cukup untuk mengambil mata kuliah KKN tersebut. Seperti pada namanya KKN merupakan bentuk pengabdian mahasiswa  kepada masyarakat, dimana beberapa mahasiswa ditugaskan untuk mengabdikan dirinya, bekerja untuk masyarakat serta mengembangkan apapun potensi dan sumber daya yang terdapat dalam suatu daerah. Oleh karena itu daerah yang menjadi tujuan dilakukannya KKN adalah di daerah-daerah yang masih membutuhkan pengembangan yang lebih maksimal lagi. Pada Hari Rabu tanggal 18 Juli 2018 telah dilakukan pemberangkatan tim-tim KKN oleh Universitas Trunojoyo Madura. 


Tepat Pukul 10.00 WIB berlokasi di Kecamatan Burneh 11 Tim KKN disambut dengan hangat oleh para pejabat kecamatan serta masyarakat Burneh. Upacara berlangsung sangat khikmat. Bapak Camat beserta jajaran dibantu dengan kapolsek dan koramil memberikan wejangan-wejangan serta nasihat kepada mahasiswa-mahasiswa yang akan menempuh kehidupannya selama 1 bulan bersama masyarakat sesuai dengan masing-masing desa yang telah ditetapkan untuk kelompok-kelompok KKN UTM. Diharapkan para mahasiswa dapat membantu serta mengembangkan dan mengabdikan dirinya untuk masyarakat sesuai dengan tugas mulia yang diberikan oleh pihak perguruan tinggi. Selain daripada mengabdi pada masyarakat KKN sendiri memiliki manfaat lainya yakni sebagai persiapan bagi mahasiswa untuk bermasyarakat mengingat sebentar lagi mahasiswa akan benar-benar terjun dalam masyarakat sebagai orang-orang yang diharapkan memberikan kontribusi yang besar untuk desa mereka masing-masing.

Nikmatnya Opor Bebek dari Desa Burneh....

Pulau madura memang menyimpan berbagai macam kuliner olahan bebek . Hingga tak terhitung jumlahnya , kita pasti tidak asing lagi y...